Generasi sandwich muslim Jawa : studi pemaknaan diri dan ketahanan diri dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi

Kholilurrahman, Umair Abdullah (2024) Generasi sandwich muslim Jawa : studi pemaknaan diri dan ketahanan diri dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Tesis_2105028012_Umair_Abdullah_Kholilurrahman] Text (Tesis_2105028012_Umair_Abdullah_Kholilurrahman)
Tesis_2105028012_Umair_Abdullah_Kholilurrahman.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)

Abstract

Litbang Kompas telah melakukan penelitian pada bulan Agustus 2022 di 34 provinsi di Indonesia yang meibatkan 504 informan hasilnya 67 persen informan mengaku menanggung beban sebagai generasi sandwich. Apabila angka ini diproporsikan dengan populasi usia produktif di Indonesia yang berjumlah 206 juta jiwa, maka diperkirakan 56 juta jiwa penduduk Indonesia adalah generasi sandwich. Generasi sandwich sendiri diartikan sebagai seseorang yang menanggung beban baik nafkah atau perawatan untuk dirinya sendiri, anaknya dan orang tuanya. Dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam (87,2 persen) dan etnis jawa menjadi suku mayoritas terbesar (40 persen), maka generasi sandwich di Indonesia paling banyak dialami oleh mereka yang beragama Islam dan beretnis Jawa. Berbagai faktor mempengaruhi generasi sandwich seperti ekonomi, sosial, dan falsafah budaya, tingginya tingkat kepadatan penduduk. Penelitian ini berfokus pada bagaimana pemaknaan diri dan ketahanan diri generasi sandwich muslim jawa dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, dengan lima informan generasi sandwich yang sudah ditentukan kriterianya. Mereka di wawancara secara mendalam dan di observasi. Analisis data pada penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik yang dipopulerkan Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) informan generasi sandwich memakan diri mereka perspektif Islam sebagai bentuk bakti atau birrul walidain adapun bantuan finasial yang mereka berikan adalah bentuk sedekah atau nafkah untuk orang yang mereka tanggung (2) informan generasi sandwich memaknai diri mereka dalam budaya jawa sebagai bentuk berbakti kepada orang tua dengan falsafah jawa “Mikul Dhuwur Mendhem Jero” (mengangkat yang tinggi, mengubur yang dalam) (3) Informan generasi sandwich mencari keberkahan dengan peran mereka. Dan terbukti mereka merasakan berbagai keberkahan dengan peran yang mereka jalani seperti berkah materi, non materi, keturunan, dll. (4) Ketahanan diri psikologis menjadi generasi sandwich informan sepakat peran mereka bukanlah sebuah beban tapi sebuah kebangaan (5) Ketahanan diri finansial informan generasi sandwich memiliki sumber pendapatan utama dan juga sampingan. Dalam pemenuhan kebutuhan, semua informan bisa memenuh kebutuhan primer dan sekunder sedang untuk kebutuhan tersier mereka hanya berfokus pada kebutuhan tersier seorang muslim seperti bisa umroh dan haji. Dalam mengelola keuangan, informan generasi dapat mengelola keuangan dengan baik dan tidak memiliki hutang. Untuk tabungan dan investasi mereka memiliki dana darurat dengan besaran yang bervariasi. Dan untuk jaminan sosial mereka mengandalkan jaminan sosial program pemerintah seperti BPJS Kesehatan (6) Ketahanan diri informan generasi sandwich aspek fisik mereka sehat, cukup gizi dan istirahat dan tidak memiliki penyakit berat meskipun secara tenaga lebih terkuras terutama informan perempuan (7) Ketahanan diri generasi sandwich aspek keluarga dan sosial mereka mendapat dukungan dari keluarga dan sosial masyarakat sehingga tetap kuat dan bertahan dalam memenuhi kebutuhan keluarga (8) Ketahanan diri informan generasi sandwich aspek spiritual selalu menjaga hubungan dengan Allah dan menjalankan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupannya menjadi generasi sandwich.

ABSTRACT:
Kompas Research and Development conducted a study in August 2022 across 34 provinces in Indonesia, involving 504 informants. The results showed that 67 percent of informants admitted to bearing the burden of being part of the sandwich generation. When this percentage is extrapolated to Indonesia’s productive age population of 206 million, it is estimated that 56 million Indonesians belong to the sandwich generation. The term sandwich generation refers to individuals who financially support themselves, their children, and their parents simultaneously. Given that the majority of Indonesia’s population is Muslim (87.2 percent) and of Javanese ethnicity (40 percent), the sandwich generation in Indonesia predominantly consists of Muslims and Javanese individuals. Various factors contribute to the sandwich generation phenomenon, including economic, sosial, cultural, and population density issues. This study fokuses on the self-interpretation and resilience of Javanese Muslim sandwich generation members in meeting their needs. The research employed a phenomenological qualitative method, involving five selected informants who met specific criteria. They were interviewed in-depth and observed closely. Data analysis was conducted descriptively, using techniques popularized by Miles and Huberman.
The research results show that (1) Self-interpretation in Islamic Perspective: Informants viewed their role as part of their Islamic obligation of filial piety (birrul walidain). The financial support they provided was interpreted as an act of charity (sadaqah) or sustenance (nafaqah) for their dependents. (2) Self-interpretation in Javanese Culture: Informants saw their role as an act of devotion to their parents, guided by the Javanese philosophy “Mikul Dhuwur Mendhem Jero” (to uphold what is high, to bury what is deep). (3) The sandwich generation informants seek blessings through their roles. It has been proven that they experience various blessings from the roles they fulfill, such as material blessings, non-material blessings, and blessings in their offspring, among others. (4) Psychological Resilience: Informants agreed that their role as part of the sandwich generation was not a burden but a source of pride. (5) Financial Resilience: Informants had primary and secondary sources of income. They could meet both primary and secondary needs, while tertiary needs were fokused on Muslim-related goals, such as performing umrah and hajj. Financially, they managed their resources well, were debt-free, and had emergency savings and investments in varying amounts. They also relied on government sosial security programs, such as BPJS Kesehatan. (6) Physical Resilience: Informants were physically healthy, nutritionally adequate, and rested sufficiently. However, their physical energy was more taxed, especially among female informants. (7) Family and Sosial Resilience: Informants received strong support from their families and communities, enabling them to remain resilient in fulfilling family needs. (8) Spiritual Resilience: Informants maintained a close relationship with Allah and adhered to Islamic principles in their lives as part of the sandwich generation.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Generasi sandwich; Muslim Jawa; Pemaknaan diri; Ketahanan diri; Kebutuhan ekonomi
Subjects: 300 Social sciences > 330 Economics > 338 Production
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2) > 60102 - Ekonomi Syariah (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 29 Apr 2026 03:16
Last Modified: 29 Apr 2026 03:16
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29545

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics