Modal sosial dalam proses jual beli di Pasar Kebondowo Banyubiru Kabupaten Semarang
Adinda, Yuliana Alfi Nur (2024) Modal sosial dalam proses jual beli di Pasar Kebondowo Banyubiru Kabupaten Semarang. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Skripsi_1806026145_Yuliana_Alfi_Nur_Adinda.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.
Download (3MB)
Abstract
Modal sosial dapat memberikan banyak kontribusi bagi semua aspek kehidupan, salah satunya dalam bidang perekonomian. Untuk mengatur sumber daya pedagang dan pembeli, modal sosial dapat menumbuhkan kepercayaan, memperkuat norma-norma, serta memperluas jaringan kerjasama antar pelaku perekonomian sehingga menimbulkan budaya jual beli di setiap pasar. Pasar Kebondowo merupakan pasar kelas B yang terdapat di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang berdiri tahun 1980 dan mengalami kebakaran lalu direvitalisasi pada tahun 2009. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian akan menunjukkan bentuk-bentuk modal sosial dalam jual beli, serta kendala yang terjadi dalam proses jual beli tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer bersumber langsung dari informan yaitu pedagang dan pembeli yang ada di pasar. Sedangkan data sekunder bersumber dari buku, artikel jurnal, serta dokumentasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik purposive. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori Francis Fukuyama untuk menempatkan hasil temuan peneliti dengan unsur-unsur dan bentuk modal sosial.
Hasil dari penelitian menunjukkan dua hal. Pertama, modal sosial digunakan untuk memperkuat kepercayaan seperti pemberian hutang uang dan dagangan, sistem mayokke dan njagakke dagangan, dan keputusan berlangganan. Modal sosial jaringan digunakan untuk membangun kerjasama dengan pedagang sekolah, kerjasama dengan pusat Pendidikan BINMAS, kerjasama dengan pedagang warung makan dan kerjasama dengan pedagang sayur keliling. Modal sosial memperkuat norma jual beli seperti etika tawar menawar harga, kesetarakan harga barang, dan etika berlangganan. Para Pedagang menggunakan Bonding sosial capital untuk mengikat kerjasama seperti pemberian tunjangan hari raya (THR), ngangeti timbangan, sistem tempel, dan sistem mayokke. Bridging social capital digunakan untuk menjembatani penagihan hutang dan paguyuban pedagang. Sedangkan Linking social capital menguhubungkan pedagang dengan pelaku perekonomian lainnya dengan transaksi jauh melalui WhatsApp dan pendistribusian barang yang semakin mudah. Kedua, adanya kendala dalam jual beli yang merupakan sisi negatif dari modal sosial. Meliputi efek kepercayaan yang terlalu kuat menyebabkan kekecewaan terhadap retur barang dan hutang yang dianggap remeh. Celah dari jaringan sosial mengakibatkan fenomena Bank Thithil menular dan pengamen yang merajalela. Kurangnya implementasi norma menyebabkan budaya boros plastik dan munculnya perilaku intimidasi. Sedangkan imbas dari Bonding social capital yaitu muncul tindakan stereotip mengenai THR dan tindakan membanding-bandingkan harga. Kerugian dari Bridging social capital yaitu beredarnya uang palsu dan adanya pencurian. Terdapat penyalahgunaan Linking social capital seperti kecurangan atau korupsi oleh distributor.
ABSTRACT:
Social capital can make many contributions to all aspects of life, one of which is in the economic sector. To manage the resources of traders and buyers, social capital can foster trust, maintain norms, and expand cooperation networks between economic actors, thereby creating a culture of buying and selling in every market. Kebondowo Market is a class B market in Banyubiru District, Semarang Regency, founded in 1980 and experienced a fire and then revitalized in 2009. Based on this background, the research will show the forms of social capital in buying and selling, as well as the obstacles that occur in the buying and selling process.
This research is field research using qualitative methods with a descriptive narrative approach. The data sources in this research are primary and secondary data. Primary data comes directly from informants, namely traders and buyers in the market. Meanwhile, secondary data comes from books, journal articles and documentation. Data collection techniques in this research used participant observation, in-depth interviews, and documentation. Determining informants was carried out using the purposive technique. Data analysis in this research uses Francis Fukuyama's theory to place the researchers' findings with the elements and forms of social capital.
The results of the research show two things. First, social capital is used to strengthen trust such as giving money and merchandise, mayokke and njagakke merchandise systems, and subscription decisions. Network social capital is used to build collaboration with school traders, collaboration with the BINMAS Education center, collaboration with food stall traders and collaboration with mobile vegetable traders. Social capital strengthens buying and selling norms such as the ethics of bargaining on prices, equality of goods prices, and subscription ethics. Traders use social capital bonding to bind cooperation such as providing holiday allowances (THR), weighing system, patch system, and merchandise mayokke system. Bridging social capital is used to bridge debt collection and traders' associations. Meanwhile, social capital linking connects traders with other economic actors by making transactions via WhatsApp and making distribution of goods easier. Second, there are obstacles in buying and selling which is the negative side of social capital. Includes the effect of trust that is too strong causing disappointment in returns of goods and debts that are considered trivial. The gaps in social networks have resulted in the Bank Thithil phenomenon being contagious and buskers running rampant. Lack of implementation of norms leads to a culture of wasting plastic and the emergence of bullying behavior. Meanwhile, the impact of bonding social capital is that stereotypical actions regarding THR and price comparisons emerge. The disadvantages of bridging social capital are the circulation of counterfeit money and theft. There is misuse of Linking social capital such as fraud or corruption by distributors.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Modal sosial; Jual beli; Pasar tradisional |
| Subjects: | 300 Social sciences > 303 Social processes > 303.4 Social change |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Politik > 69201 - Sosiologi |
| Depositing User: | Miswan Miswan |
| Date Deposited: | 11 Jun 2026 01:29 |
| Last Modified: | 11 Jun 2026 01:29 |
| URI: | https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29961 |
Actions (login required)
Downloads
Downloads per month over past year
