Analisis implementasi penanggalan Aboge di Keraton Kasepuhan Cirebon

Mubarok, Rizki (2024) Analisis implementasi penanggalan Aboge di Keraton Kasepuhan Cirebon. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of 2102046055 - Rizki Mubarok] Text (2102046055 - Rizki Mubarok)
2102046055 - Rizki Mubarok.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Penanggalan Aboge merupakan sistem penanggalan Jawa Islam yang menggunakan hisab ‘urfi, sebuah metode perhitungan yang bersifat tetap dan tidak mengalami perubahan. Dalam masyarakat Jawa, terdapat dua versi penanggalan Jawa Islam yang digunakan, yaitu kurup Aboge dan Asapon. Kurup Asapon umumnya diterapkan di keraton-keraton Islam seperti Yogyakarta dan Surakarta. Namun, berbeda dengan itu, Keraton Kasepuhan Cirebon, yang merupakan keraton Islam di Jawa Barat, masih mempertahankan penggunaan kurup Aboge. Dalam aturan penanggalan Jawa Islam, kurup Aboge dianggap sebagai sistem yang sudah usang.
Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada dua hal utama: bagaimana implementasi penanggalan Aboge di Keraton Kasepuhan Cirebon, dan apa saja faktor yang memengaruhi keberlanjutan penggunaannya. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Data mengenai penanggalan Aboge dikumpulkan melalui studi literatur, kemudian diverifikasi melalui wawancara dan observasi. Narasumber utama meliputi Pak Nanung, seorang abdi dalem Keraton Kasepuhan Cirebon, dan Ki Dalang Teja Suwara Prawa dari Keraton Kanoman, yang memaparkan perhitungan dan penerapan Aboge serta Kang Farihin Niskala, S.Hum., seorang ahli sejarah penanggalan Aboge di Cirebon.
Hasil penelitian mengungkapkan dua temuan utama. Pertama, penanggalan Aboge di Keraton Kasepuhan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti menentukan hari baik untuk acara-acara penting, termasuk pernikahan, hingga aktivitas sehari-hari. Penanggalan ini juga digunakan dalam penentuan hari-hari besar keagamaan dan pelaksanaan upacara adat. Untuk menentukan awal bulan Qamariah, Keraton Kasepuhan mengandalkan perhitungan Aboge, di mana hari dan pasaran awal bulan dapat diprediksi secara tetap berkat sifat hisab ‘urfi yang diterapkan. Kendati demikian, akurasi perhitungan ini masih menjadi bahan kajian lebih lanjut. Namun, dalam penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, Keraton Kasepuhan mengikuti keputusan pemerintah guna menghindari perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.
Kedua, keberlanjutan penggunaan penanggalan Aboge di Keraton Kasepuhan Cirebon didorong oleh dua faktor utama. Pertama adalah upaya pelestarian tradisi, di mana sistem penanggalan ini memiliki nilai penting dalam budaya sosial keraton dan masyarakat Cirebon. Kedua adalah pengaruh sejarah, di mana sejak masa Kesultanan Mataram, penanggalan Aboge telah menjadi simbol identitas lokal Keraton Kasepuhan. Walaupun penanggalan ini dianggap kurang akurat secara astronomi, Aboge tetap dipertahankan sebagai wujud pelestarian budaya dan warisan leluhur yang dipercaya membawa keberkahan bagi masyarakat Cirebon.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Penanggalan Aboge; Keraton kasepuhan
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 520 Astronomy and allied sciences > 529 Chronology
Depositing User: Fahrurozi Fahrurozi
Date Deposited: 17 Jun 2026 06:47
Last Modified: 17 Jun 2026 06:47
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/30103

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics