Pluralisme agama dalam masyarakat multikultural : studi pada Kampung Melayu Kelurahan Dadapsari Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang

Herivo, Marsekal Vero (2024) Pluralisme agama dalam masyarakat multikultural : studi pada Kampung Melayu Kelurahan Dadapsari Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Skripsi_2106026024_Marsekal_Vero_Herivo] Text (Skripsi_2106026024_Marsekal_Vero_Herivo)
Skripsi_2106026024_Marsekal_Vero_Herivo.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia, dengan 17.000 pulau, 1.340 suku, 840 bahasa, dan enam agama resmi hingga tahun 2021. Untuk menjaga perdamaian dan ketentraman, penerapan nilai-nilai toleransi atau "Pluralisme" sangat penting agar keberagaman suku, budaya, ras, dan agama di Indonesia tidak menjadi celah bagi pihak yang ingin memecah belah. Kawasan Cagar Budaya Kampung Melayu yang berada di Kelurahan Dadapsari Kota Semarang Jawa Tengah, merupakan salah satu dari cerminan pemukiman multi-etnis dan multi-agama yang ada di Indonesia, pemukiman ini sudah berdiri sejak abad ke-17 dan keharmonisan penduduknya masih tetap terjaga hingga sekarang ini. Kampung Melayu Kota Semarang menjadi suatu cerminan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa mengikuti langkah-langkah yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Melayu dalam menjunjung tinggi keharmonisan antar umat beragama dan antar etnis, suku, dan budaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan bagaimana upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Melayu dalam menerapkan nilai-nilai pluralisme dan bagaimana dampak-dampak ang dirasakan oleh masyarakat Kampung Melayu dari nilai-nilai pluralisme.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif, hal ini bertujuan untuk mendapatkan data secara akurat mengenai upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Melayu dan dampak-dampak yang dirasakan oleh masyarakat Kampung Melayu. Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Adapun metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitiani ini, yaitu observasi, wawancara menggunakan teknik Purpossive, dan dokumentasi. Penelitian ini juga menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik George H. Mead sebagai alat untuk menganalisis pluralisme di Kampung Melayu Kota Semarang.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa masyarakat Kampung Melayu menjaga kebersamaan melalui kegiatan seperti Kirab budaya, lingkaran pergaulan, dan saling merayakan hari raya setiap agama, yang membawa dampak berupa kehidupan yang tentram, aman, dan damai. Selain itu, keberadaan Kampung Melayu sebagai pusat pluralisme menciptakan peluang ekonomi dengan menarik banyak pengunjung, yang berkontribusi pada peningkatan penghasilan warga melalui penjualan cinderamata, kuliner khas, dan spot foto pre-wedding. Teori Interaksionisme Simbolik Mead sesuai dalam konteks ini, dimana simbol-simbol pluralisme memperkuat identitas dan kedamaian di masyarakat Kampung Melayu.

ABSTRACT:
Indonesia is one of the world's largest multicultural nations, with 17,000 islands, 1,340 ethnic groups, 840 languages, and six official religions as of 2021. To maintain peace and harmony, applying tolerance values, or "pluralism," is crucial to prevent Indonesia's ethnic, cultural, racial, and religious diversity from becoming a point of division. The Kampung Melayu Cultural Heritage Area, located in the Dadapsari sub-district of Semarang City, Central Java, serves as a reflection of Indonesia’s multi-ethnic and multi-religious communities. Established in the 17th century, this settlement has maintained harmonious coexistence among its residents to the present day. Kampung Melayu Semarang stands as a model for Indonesian society, exemplifying steps taken to uphold interfaith and inter-ethnic harmony, as well as unity across various cultures and traditions.
This study aims to reveal the efforts made by the Kampung Melayu community to implement pluralistic values and the impacts experienced by the residents as a result. Using a qualitative research method with a descriptive approach, the study seeks to obtain accurate data on the actions of the Kampung Melayu community and the effects of pluralistic values on their lives. The research relies on two sources of data: primary and secondary data. The data collection methods include observation, purposive sampling interviews, and documentation. Additionally, George H. Mead's Symbolic Interactionism Theory is employed to analyze pluralism in Kampung Melayu, Semarang.
The study reveals that the Kampung Melayu community fosters unity through activities such as cultural parades, social gatherings, and mutual celebration of each religion’s holidays, resulting in a peaceful and secure environment. Furthermore, Kampung Melayu’s role as a pluralism hub has created economic opportunities by attracting numerous visitors, which has boosted residents’ income by selling souvenirs, traditional foods, and pre-wedding photo locations. Mead’s Symbolic Interactionism Theory is applicable in this context, as pluralistic symbols reinforce identity and peace within the Kampung Melayu community.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Pluralisme; Multikultural; Kampung Melayu; Interaksionisme simbolik
Subjects: 300 Social sciences > 302 Social interaction
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik > 69201 - Sosiologi
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 30 Jun 2026 08:36
Last Modified: 01 Jul 2026 08:44
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/30219

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics