Tradisi ngguwak anak dalam tinjauan hukum Islam : studi kasus Desa Mayong Lor Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara

Khaq, Muhammad Mirzakhul (2024) Tradisi ngguwak anak dalam tinjauan hukum Islam : studi kasus Desa Mayong Lor Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo.

[thumbnail of SKRIPSI_2002016004_MUHAMMAD_ MIRZAKHUL_ KHAQ] Text (SKRIPSI_2002016004_MUHAMMAD_ MIRZAKHUL_ KHAQ)
2002016004 - Muhammad Mirzakhul Khaq.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)

Abstract

Tradisi ngguwak anak di Desa Mayong lor merupakan suatu ritual warisan nenek moyang, yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat setempat, dengan tujuan meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akibat dari adanya persamaan weton anak dengan salah satu orang tuanya. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, anak yang lahir memiliki kesamaan weton dengan salah satu orang tuanya akan kalah salah satu. Penelitian ini menganalisis mengenai 1. Bagaimana prosesi tradisi ngguwak anak di Desa Mayong Lor, 2. Bagaimana tradisi ngguwak anak dalam tinjauan hukum Islam.
Pada penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (Field Reseach) dengan pendekatan metode kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya data yang sudah terkumpul dianalisis menggunakan teknis deksriptif analisis.
Hasil penelitian mengenai prosesi tradisi ngguwak anak dilakukan hanya ketika anak yang lahir memiliki kesamaan weton dengan salah satu orang tuanya, anak tersebut akan dibuang secara simbolik oleh orang tuanya di sekitar rumah, dan sudah ditentukan orang yang akan menemukannya. Mengenai pengembalian hak asuh anak, untuk anak laki-laki ketika khitan sedangkan untuk anak perempuan ketika akan menikah. Kemudian dalam tinjauan hukum Islam, tradisi ini terbagi menjadi dua jenis ‘urf, Pertama, ‘urf fasid jika alasan masyarakat melakukan tradisi tersebut karena takut terhadap bala’ yang ditimbulkan akibat persamaan weton merupakan perbuatan syirik, oleh karena itu termasuk kategori tradisi yang tidak boleh dilakukan (haram). Dan yang kedua, ‘urf shahih, jika melakukan tradisi tersebut bertujuan untuk meminta keselamatan dan keberkahan hidup, serta melestarikan warisan leluhur, maka boleh (mubah) untuk dilakukan dan dilestarikan.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Tradisi; ‘Urf; Ngguwak anak; Hadhanah; Hukum Islam
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > 74230 - Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhsiyyah)
Depositing User: Siti Purwati
Date Deposited: 09 Jul 2026 02:20
Last Modified: 09 Jul 2026 02:22
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/30281

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics