Penafsiran ayat-ayat isytihā di surga : studi komparatif Tafsīr Al-Marāghī dan Al-Munīr

Mahendra, Muhammad Ihza (2025) Penafsiran ayat-ayat isytihā di surga : studi komparatif Tafsīr Al-Marāghī dan Al-Munīr. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of SKRIPSI2004026063MUHAMMAD_IHZA_MAHENDRA] Text (SKRIPSI2004026063MUHAMMAD_IHZA_MAHENDRA)
SKRIPSI2004026063MUHAMMAD_IHZA_MAHENDRA-0.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Syahwat merupakan keadaan asal manusia yang berperan besar dalam mengendalikan perilaku manusia. Apabila syahwat tidak dikendalikan maka segala perbuatan manusia akan menjadi buruk atau mengikuti keinginan dan kesenangan syahwat itu sendiri. Tentu terlepas dari banyaknya kata syahwat yang bermakna mengarah ke negatif, ternyata kata tersebut ada yang bermakna positif dan dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an yang dijelaskan dalam konteks di dalam surga. Kata yang bermakna positif di dalam surga ialah kata isytihā. Kata isytihā mempunyai arti yaitu menginginkan. Di dalam Al-Qur’an kata isytihā dan derivasinya disebutkan sebanyak delapan kali, enam di antaranya bermakna di surga dan dua diantaranya bermakna di neraka. Berdasarkan dari latar belakang tersebut penulis mengkaji penelitian tentang bagaimana penafsiran ayat-ayat isytihā di surga dalam tafsīr al-Marāghī dan al-Munīr dan bagaimana perbandingan persamaan dan perbedaan penafsiran ayat-ayat isytihā di surga dalam tafsīr al-Marāghī dan al-Munīr. Jenis penelitian skripsi ini menggunakan library research (penelitian perpustakaan). Kajian kepustakaan ini berupa data primer, dari kitab tafsīr al-Marāghī dan al-Munīr dan data sekundernya berupa buku-buku, jurnal, artikel, majalah, literatur tafsir dan sumber-sumber lain yang terkait dalam bidang tersebut dan relevan. Dalam menganalisis penulis menggunakan metode analisis komparatif, yakni mendeskripsikan tentang ayat-ayat isytihā di surga dari kedua kitab tafsir, kemudian dianalisis secara kritis, beserta berusaha mencari persamaan dan perbedaan dari penafsiran kedua kitab tafsir tersebut. Hasil dari penelitian ini, pertama, isytihā di surga dalam tafsīr al-Marāghī dan al-Munīr merupakan bentuk kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang diinginkan jiwa kaum mukminin ketika berada di surga. Mereka mendapatkan segala kenikmatan dan kelezatan yang diinginkan oleh syahwat nya pasti akan didapatkan semuanya. Kedua, kesamaan penafsiran dalam kedua kitab tersebut ialah tentang kondisi para penghuni surga dengan segala kenikmatan dan kesenangan yang mereka peroleh karena melaksanakan kewajiban dan meninggalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT, maka mereka mendapatkan apapun yang mereka inginkan sesuai dengan syahwat nya. Adapun terkait dengan perbedaanya terletak pada corak penafsiran kedua kitab tafsir, kata (نَحْنُ) dalam surah Fussilat ayat 31, kalimat (وَاَمْدَدْنٰهُمْ) dalam surah Az-Zukhruf ayat 71, dan alasan dipilihnya daging burung dan hikmah penyebutan buah-buahan terlebih dahulu dalam surah Al-Waqi’ah ayat 21.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Isytihā; Surga; Al-Marāghī; Al-Munīr
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > 76231 - Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Upload Mandiri
Date Deposited: 15 Jul 2026 01:42
Last Modified: 15 Jul 2026 01:44
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/30417

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics