Ketidaksetaraan gender dalam naskah Monolog Inggit karya Ahda Imran : kajian subaltern pada karya sastra

Prasetiyo, Andika Tri (2025) Ketidaksetaraan gender dalam naskah Monolog Inggit karya Ahda Imran : kajian subaltern pada karya sastra. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of SKRIPSI1906026126ANDIKA_TRI_PRASETIYO] Text (SKRIPSI1906026126ANDIKA_TRI_PRASETIYO)
SKRIPSI1906026126ANDIKA_TRI_PRASETIYO-0.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Penggunaan karya sastra dan bentuk-bentuk kesenian lainnya merupakan alternatif edukasi yang patut dicoba dengan pertimbangan melihat daya tangkap masyarakat akan suatu informasi. Hadirnya sastrawan yang berorientasi pada sejarah seperti Ahda Imran menjadi bukti bahwa karya sastra adalah medium yang efektif untuk mengedukasi masyarakat. Dalam kaitannya dengan Inggit Garnasih, naskah Monolog Inggit sebagai karya sastra telah berhasil memperkenalkan Inggit Garnasih kepada para pembaca. Dalam naskah Monolog Inggit, dapat kita jumpai hal-hal menarik yang tidak banyak tertulis dalam literatur-literatur mainstream. Dapat dikatakan bahwa naskah Monolog Inggit memberi cara pandang baru terhadap Inggit dan orang-orang yang ada di dalam kehidupannya dan ironisnya juga termasuk ketidaksetaraan gender yang dialami beliau yang memang menjadi narasi utama dari naskah tersebut. Penelitian ini akan memaparkan berbagai bentuk ketidaksetaraan gender di dalam naskah ini, faktor penyebabnya, serta relevansinya dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Penelitian ini merupakan penelitian berbasis studi kepustakaan dan menggunakan pendekatan kualitatif naratif. Di sini, naskah Monolog Inggit karya Ahda Imran menjadi objek penelitian dan juga sebagai sumber data utama di samping sumber data sekunder seperti; catatan harian, surat-surat, notulensi, gambar-gambar, foto-foto, dan data lain yang berhubungan dengan penelitian. Dikarenakan objek dari penelitian ini merupakan sebuah karya sastra yang mana kaya akan berbagai kata konotatif dan bentuk majas, maka teknik analisis data yang paling relevan bagi penelitian ini adalah penggunaan semantik untuk menginterpretasikan simbol-simbol linguistik yang ada di dalam naskah. Dengan turut memperhatikan konteks kesejarahan dan kehidupan masyarakat, makna sesungguhnya dari naskah akan didapatkan. Di bagian akhir, teori subaltern dari Gayatri Spivak akan dijadikan sebagai ujung tombak analisis kajian ketidaksetaraan gender dalam naskah ini.
Pada akhirnya, penelitian ini membuahkan beberapa kesimpulan bahwa dapat ditemukan bentuk ketidaksetaraan gender pada naskah Monolog Inggit yang berwujud sebagai ketiadaan hak berpendapat, beban ganda, stereotipe, kesempurnaan tubuh dan subordinasi. Berbagai ketidaksetaraan tersebut terjadi diakibatkan bias informasi, konstruksi sosial, dan privilese. Lebih lanjut, ketidaksetaraan gender yang dialami oleh Inggit memiliki relevansi pada kehidupan politik dan pembangunan di masyarakat kini. Dalam bidang politik, perempuan belum berpartisipasi secara aktif dan masih menjadi objek politik. Sedangkan pada bidang pembangunan, kontribusi perempuan masih belum mendapat apresiasi yang layak.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Ketidaksetaraan gender; Monolog Inggit; Subaltern
Subjects: 300 Social sciences > 305 Social groups > 305.4 Women
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik > 69201 - Sosiologi
Depositing User: Upload Mandiri
Date Deposited: 27 Jul 2026 01:50
Last Modified: 27 Jul 2026 01:54
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/30750

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics