Tradisi Ngemblok dalam khitbah wanita kepada pria perspektif hermeneutika Dilthey

Farisi, A Jauharil (2025) Tradisi Ngemblok dalam khitbah wanita kepada pria perspektif hermeneutika Dilthey. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of SKRIPSI2102016089A_JAUHARIL_FARISI] Text (SKRIPSI2102016089A_JAUHARIL_FARISI)
SKRIPSI2102016089A_JAUHARIL_FARISI-0.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Tradisi peminangan yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya dilakukan oleh pihak laki-laki kepada perempuan. Namun berbeda dengan yang terjadi di wilayah pesisir barat Tuban dan Rembang yang memiliki pola peminangan berdasarkan inisiatif dari pihak perempuan. Konon tradisi peminangan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan biasa disebut dengan istilah ngemblok dan dipercaya sebagai tradisi peninggalan leluhur yang dari dulu telah disepakati dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Dengan keunikan yang terjadi dalam peminangan semacam ini, peneliti mencoba menganalisis dengan teori Hermeneutika Dilthey. Hermeneutika Dilthey sebagai ilmu kemanusiaan untuk memahami fenomena sosial, hukum maupun kebudayaan. Dengan demikian diharap dapat mengungkap makna dan tujuan dibalik ekspresi dan tindakan manusia.
Berdasarkan latar belakang, peneliti merumuskan tujuan penelitian yaitu: 1) Bagaimana pemahaman masyarakat terhadap budaya khitbah perempuan oleh laki-laki di wilayah pesisir. 2) Bagaimana analisis hermeneutika Dilthey terhadap tradisi ngemblok berdasarkan konsep Erlebniz, Ausdruck dan Verstehen.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan normatif empiris. Jenis penelitian ini field research, sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sekunder, teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara, analisis data dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ngemblok merupakan warisan leluhur yang memiliki berbagai tujuan. Berdasarkan Hermeneutika Dilthey, tradisi ini dianalisis melalui tiga konsep utama. 1) Erlebniz mengungkap bahwa anak gadis yang cukup umur segera dinikahkan, karena dipandang perempuan sebagai pekerja domestik. Para orang tua memilih calon suami pekerja keras demi stabilitas rumah tangga. 2) Ausdruck menyoroti ekspresi tradisi melalui hikayat Nabi Adam dan Siti Hawa dalam surah An-Nisa ayat 1, serta simbolisme jajanan yang merepresentasikan kesucian pernikahan dan keutuhan hubungan. 3) Verstehen menunjukkan bahwa masyarakat nelayan memberikan hak yang setara kepada perempuan dalam peminangan, sehingga perempuan memiliki kesempatan lebih awal untuk memilih pasangan yang tepat. Penelitian ini menginterpretasikan bahwa tradisi ngemblok tidak bersebrangan dengan syariat Islam, mencerminkan kesetaraan gender, perlindungan hak perempuan, serta nilai spiritualitas yang tergambar dalam simbol-simbol tradisi seperti jajanan dan seserahan.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Khitbah; Tradisi Ngemblok; Hermeneutika Dilthey
Subjects: 300 Social sciences > 390 Customs, etiquette, folklore > 392 Customs of life cycle and domestic life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > 74230 - Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhsiyyah)
Depositing User: Upload Mandiri
Date Deposited: 28 Jul 2026 04:47
Last Modified: 28 Jul 2026 04:47
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/30820

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics