Tinjauan istiṣlāḥ terhadap larangan perkawinan Kebo Gerang di Desa Japan Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus

Munfarihah, Nihayatul (2025) Tinjauan istiṣlāḥ terhadap larangan perkawinan Kebo Gerang di Desa Japan Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of SKRIPSI2102016027NIHAYATUL_MUNFARIHAH] Text (SKRIPSI2102016027NIHAYATUL_MUNFARIHAH)
SKRIPSI2102016027NIHAYATUL_MUNFARIHAH-0.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji perkawinan Kebo Gerang di Desa Japan, Kudus yang didasarkan pada perhitungan neptu weton dengan jumlah 28. Tradisi ini dianggap penting karena diyakini dapat membawa musibah seperti kematian orang tua atau konflik rumah tangga. Topik ini sangat penting untuk diteliti karena melibatkan persepsi antara tradisi lokal yang kuat dengan prinsip-prinsip hukum Islam dan hukum positif Indonesia, yang akhirnya menimbulkan dilema sosial dan keagamaan bagi masyarakat.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji pandangan masyarakat Desa Jepang terhadap perkawinan Kebo Gerang, serta meninjaunya dari perspektif istiṣlāḥ dan 'urf dalam hukum Islam. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi apakah tradisi ini memiliki dasar hukum yang sah dalam Islam atau hanya merupakan kebiasaan lokal yang perlu disusun secara proporsional.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris. Penelitian lapangan dilakukan secara langsung di masyarakat Desa Japan untuk mengumpulkan data primer melalui wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat. Data sekunder diperoleh dari Al-Qur'an, Hadis, Hukum Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, literatur hukum Islam, dan jurnal ilmiah terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif, membandingkan realitas sosial dengan ketentuan hukum Islam dan hukum positif, serta mengikutinya dengan teori istiṣlāḥ dan 'urf.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa larangan perkawinan Kebo Gerang tidak memiliki dasar hukum yang kuat dalam Islam dan tidak termasuk dalam kategori pernikahan yang dilarang. Kesimpulannya, tradisi ini lebih baik dipahami sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai moral dan sosial, bukan sebagai aturan agama yang mengikat, dan harus disusun dengan bijak agar tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariat Islam.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Perkawinan; Tradisi; Kebo Gerang; Istiṣlāḥ; ‘Urf
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.14 Religious Ceremonial Laws and Decisions
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > 74230 - Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhsiyyah)
Depositing User: Upload Mandiri
Date Deposited: 05 Sep 2026 03:25
Last Modified: 05 Sep 2026 03:25
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/31661

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics