Makna kafir dalam Al-Qur’an menurut Toshihiko Izutsu

Ubad, Qonitah Zumrotul (2020) Makna kafir dalam Al-Qur’an menurut Toshihiko Izutsu. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of SKRIPSI_1604026127_QONITAH_ZUMROTUL_UBAD]
Preview
Text (SKRIPSI_1604026127_QONITAH_ZUMROTUL_UBAD)
1604026127_Qonitah Zumrotul Ubad_Lengkap Tugas Akhir.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

Persoalan kāfir merupakan isu sensitif teologi kemusliman dalam kehidupan. Di masa ini, sering kita jumpai peristiwa mengkafirkan orang lain yang sesama muslim. Tuduhan kāfir berimplikasi bahwa orang tersebut non-Muslim maupun ateis. Bila ditelaah, term-term kufr dalam al-Qur’an tidak semuanya mengacu kepada makna pengingkaran atau antitesis dari īmān. Toshihiko Izutsu, melalui kajian semantik menjelaskan beberapa konsep tentang Islam dengan seluruh kaitannya secara sistematis dan kronologis untuk menuju makna yang spesifik dan konteks konseptual Islam, sehingga pembahasan tentang makna kāfir mencari makna yang rasional dari kata kafara yang melampaui makna dasarnya yang akan menghasilkan makna baru yang sesuai dengan konteks al-Qur’an. Penelitian ini didasarkan pada satu rumusan masalah, yakni bagaimana pemaknaan kāfir dalam al-Qur’an menurut Toshihiko Izutsu.
Jenis penelitian ini adalah library research (penelitian kepustakaan) yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data melalui metode dokumentasi dengan mencari serta mentelaah data kualitatif yang sesuai dengan tema dari sumber data primer dan data sekunder. Analisis deskriptif menjadi metode dalam skripsi ini.
Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa kāfir selama ini dipahami sebagai seseorang yang tidak percaya atau tidak meyakini Allah dan Rasul-Nya, seorang yang telah telah keluar dari Islam atau mereka yang non-Islam, yang merupakan antitesis dari īmān. Toshihiko Izutsu berbeda pandangan mengenai hal tersebut. Menurutnya, kāfir secara mendasar lebih tepat diartikan sebagai seseorang yang tidak berterimakasih. Menurutnya, secara semantik istilah kufr mempunyai keterkaitan kuat dengan istilah-istilah lain dalam al-Qur’an yang mengandung etika buruk yang mewakili konsep-konsep yang erat terkait dengan kufr yakni fisq, ḍalal, ẓulm, istikbar, iṣyan, dan syirik. Hal ini menandakan bahwa jika seseorang melakukan perbuatan kufr maka ia disebut kafir yang sejajar dengan istilah-istilah lain seperti musyrik, ẓalim, dan fāsiq. Izutsu menganggap kāfir telah kehilangan stabilitas dan kepastian denotatifnya. Menurutnya, kāfir yang semula tidak berkonotasi religius dan dinisbatkan kepada orang yang tidak mau berterima kasih atas pemberian pertolongan orang lain, semakin kesini semakin bergeser maknanya menjadi seseorang yang tidak menyakini Allah sebagai Tuhannya dan Rasul nabinya.Sehingga Izutsu berkesimpulan bahwa makna dasar kafir lebih kepada konsep etis keagamaan yang bermakna tidak bersyukur, yang antitesisnya bukan īmān, melainkan syukur. Dengan demikian, kāfir adalah seseorang yang menerima kebaikan dari Tuhan, namun tidak menunjukkan tanda-tanda berterimakasih, bahkan mengingkari kebaikan-Nya.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Tafsir Al-Qur'an; Kafir; Toshihiko Izutsu
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > 76231 - Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Ana Afida
Date Deposited: 09 Sep 2021 04:39
Last Modified: 13 Nov 2021 04:50
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/13258

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics