Perspektif feminis muslim Indonesia tentang keperawanan perempuan untuk tercapainya tujuan perkawinan

Aisah, Septy (2025) Perspektif feminis muslim Indonesia tentang keperawanan perempuan untuk tercapainya tujuan perkawinan. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Skripsi_2102016068_Septy_Aisah] Text (Skripsi_2102016068_Septy_Aisah)
2102016068_Septy Aisah_Lengkap Tugas Akhir - SEPTY AISAH 2102016068.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB)

Abstract

Keperawanan perempuan sering kali dianggap menjadi masalah penting untuk terciptanya tujuan perkawinan dan menimbulkan diskriminasi berbasis gender. Tolok ukur keperawanan yang dikaitkan dengan keutuhan selaput dara serta norma sosial yang mengobjektifikasi tubuh perempuan berakar dalam sistem patriarki yang masih kuat. Dalam ranah hukum, meskipun UU Perkawinan Tahun 1974 dan KHI Tahun 1991 telah mengatur pernikahan dalam perspektif Islam yang lebih inklusif, realitas di masyarakat masih menunjukkan adanya stigma terhadap perempuan yang dianggap tidak perawan.
Penelitian ini menerapkan metode jenis lapangan atau field research dan teknik analisis data deskriptif-normatif untuk menguraikan pendapat tokoh feminisme muslim di Indonesia, yakni Siti Musdah Mulia, Husein Muhammad, Faqihuddin Abdul Kadir dan Nur Rofiah. Sementara itu pendekatan dalam proses penelitian adalah feminis Islam, yang mengkaji menggunakan perspektif gender untuk menafsirkan ulang teks-teks agama Islam.
Penelitian ini menyimpulkan dalam perspektif feminis Muslim Indonesia, keperawanan perempuan tidak menjadi tolok ukur utama dalam mencapai tujuan perkawinan dengan dilihat melalui karakteristik makna, penting atau tidaknya keperawanan perempuan dan argumentasi hukum. Dalam tinjauan hukum Islam, baik laki-laki maupun perempuan diperintahkan untuk menjaga kesucian diri dan menghindari zina, sebagaimana QS Al-Isra ayat 32 dan QS An-Nur ayat 33. Islam menekankan bahwa seorang pezina dapat menikah setelah bertobat dengan sungguh-sungguh, sebagaimana QS An-Nur ayat 3. Dengan demikian, pemaknaan ulang terhadap keperawanan dalam konteks perkawinan perlu dilakukan supaya mencerminkan nilai-nilai keadilan dalam Islam.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Keperawanan perempuan; feminis Islam; perkawinan
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > 74230 - Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhsiyyah)
Depositing User: Bahrul Ulumi
Date Deposited: 30 Dec 2025 03:10
Last Modified: 30 Dec 2025 03:10
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/28892

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics