Kontekstualisasi makna ghurūr dalam Al-Qur’an perspektif pendekatan ma’nā-cum-maghzā

Elfahmi, Ahmad Ussyaqi (2025) Kontekstualisasi makna ghurūr dalam Al-Qur’an perspektif pendekatan ma’nā-cum-maghzā. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Tesis_2104028008_Ahmad_Ussyaqi] Text (Tesis_2104028008_Ahmad_Ussyaqi)
Tesis_2104028008_Ahmad_Ussyaqi.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Fenomena tipu daya (ghurūr) dalam kehidupan masyarakat kontemporer semakin mencolok dan meresahkan, khususnya di Indonesia, seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan meningkatnya disinformasi, penipuan digital, serta praktik korupsi yang terstruktur. Maraknya hoaks, penipuan investasi daring, dan perilaku konsumtif yang membabi buta menjadi refleksi dari melemahnya kesadaran spiritual dan etika sosial. Al-Qur'an, sebagai kirab suci umat Islam, telah mengidentifikasi ghurūr seabagai bentuk penyesatan dan ilusi yang menjauhkan manusia dari kebenaran, serta senantiasa dihubungkan dengan tipu daya setan dan jebakan duniawi. Namun demikian, pemaknaan ghurūr selama ini masih cenderung terikat pada pendekatan linguistik normatif atau tafsir tematik konvensional yang belum banyak menyentuh relevansi sosial-kontekstual secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang makna ghurūr dalam Al-Qur'an melalui pendekatan Ma’nā Cum Maghzā yang dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin. Pendekatan ini dipilih karena mampu memadukan dimensi tekstual dan kontekstual, serta mangaitkan makna literal ayat dengan latar historis dan konteks sosial-kultural masa kini. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode studi pustaka, menganalisi ayat-ayat yang memuat lafaz ghurūr , baik melalui penelusuran makna linguistik, penafsiran mufasir klasik dan kontemporer, maupun pelacakan konteks turunnya ayat (asbāb al-nuzūl) dan kondisi masyarakat Arab saat itu.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lafaz ghurūr dalam Al-Qur'an selalu bermakna negatif dan tidak pernah digunakan dalam konteks pujian. Kata ini menggambarkan bentuk ilusi, kesombongan, dan rasa aman semu yang berakar dari godaan setan dan kecenderungan hawa nafsu. Dalam konteks modern, ghurūr dapat dimaknai sebagai simbol dari jebakan digital, budaya hedonisme, dan keserakahan material yang mengancam integritas pribadi dan sosial. Dengan pendekatan Ma’nā Cum Maghzā, makna ghurūr tampil bukan hanya sebagai wacana linguistik semata, tetapi menjadi peringatan etis dan spiritual yang aktual dan kontributif dalam membangun kesadaran kritis terhadap dinamika zaman. Penelitian ini memperkaya khazanah tafsir kontekstual dan menunjukkan urgensi reaktualisasi pesan-pesan Al-Qur'an di era disrupsi moral dan informasi.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Ghurūr; Tafsir Al-Qur'an, Ma’nā cum maghzā; Pendekatan kontekstual; Era digital
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2) > 76131 - Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (S2)
Depositing User: Hizkia Chandra
Date Deposited: 10 Feb 2026 02:10
Last Modified: 10 Feb 2026 02:10
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29315

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics