Tradisi Pancenan bagi masyarakat sebagai instrumen toleransi sosial di Desa Glonggong Kecamatan Jakenan Kabupaten Pati
Wafa, Izza Nuril (2025) Tradisi Pancenan bagi masyarakat sebagai instrumen toleransi sosial di Desa Glonggong Kecamatan Jakenan Kabupaten Pati. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Skripsi_2104036062_Izza_Nuril_Wafa.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.
Download (2MB)
Abstract
Meskipun zaman terus berkembang dan modernisasi berpengaruh sebagian masyarakat pedesaan masih tetap melestarikan tradisi sebagai wujud identitas kolektif sekaligus sebagai upaya menjaga keharmonisan sosial. Penelitian ini mengkaji Tradisi Pancenan sebagai sarana untuk membangun toleransi sosial di tengah masyarakat Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Tradisi Pancenan bagi masyarakat setempat dianggap sebagai warisan budaya lokal yang masih dilestarikan oleh warga dan memiliki makna mendalam. Makna tersebut tidak hanya secara budaya dan spiritual, tetapi juga sebagai media interaksi sosial antarwarga dengan latar belakang keagamaan dan ideologi yang berbeda, khususnya antara kelompok Islam abangan dan Islam putihan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi sosial masyarakat Glonggong yang majemuk dalam hal pemahaman keislaman, di mana kelompok abangan cenderung mempertahankan tradisi lokal bercorak kejawen, sementara kelompok putihan lebih mengacu pada ajaran Islam yang normatif. Masyarakat setempat mampu menjaga keharmonisan, meskipun terdapat potensi konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pemahaman dan pendapat dari masing-masing kelompok. Menurut Koentjaraningrat, mengatakan bahwa tradisi sama dengan adat istiadat, konsep serta aturan yang mantap dan terintegrasi sangat kuat dalam sistem budaya disuatu kebudayaan yang mengatur tindakan manusia dalam bidang sosial kebudayaan. Peneliti ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan antropologi agama. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi dengan melibatkan tokoh masyarakat, pemuka agama dari kedua kelompok, serta warga yang aktif dalam kegiatan tradisi Pancenan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa : Pertama, makna tradisi Pancenan dipahami sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian dan keselamatan desa, yang diwujudkan melalui ziarah leluhur, doa bersama, dan kenduri yang melibatkan seluruh warga tanpa memandang perbedaan keyakinan. Selain itu, tradisi Pancenan juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat hubungan antarawarga yang berbeda latarbelakang. Kedua, tradisi Pancenan berperan sebagai alat sosial-budaya yang mampu memperkuat toleransi sosial dan persatuan di tengah perbedaan pemahaman corak keIslaman. Melalui partisipasi aktif dari masyarakat, tradisi Pancenan membuktikan perannya sebagai instrumen penting dalam membangun toleransi, solidaritas dan kohesi sosial di tengah pengaruh modernisasi.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tradisi Pancenan; Toleransi sosial; Islam Abangan; Islam Putihan; Kearifan lokal |
| Subjects: | 300 Social sciences > 390 Customs, etiquette, folklore > 394 General customs |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > 76234 - Studi Agama-agama |
| Depositing User: | Gilang D. Wibowo |
| Date Deposited: | 04 Feb 2026 00:50 |
| Last Modified: | 04 Feb 2026 00:50 |
| URI: | https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29240 |
Actions (login required)
Downloads
Downloads per month over past year
